Behavior Based Safety (BBS) / Keselamatan Berbasis Perilaku

Berbicara tentang Behavior Based Safety atau Keselamatan Berbasis Perilaku, maka sangat jelas sekali kalau basic atau landasan jalannya program ini yaitu berdasarkan perilaku. Perilaku di sini tentu sangat terang berhubungan dengan perilaku manusia dalam hal bekerja di ruang kerja yang sangat banyak bersinggungan dengan alat-alat kerja, benda kerja, kendaraan kerja, langkah kerja, dan yang lain. Sebelumnya masuk lebih dalam ke kajian tentang Behavior Based Safety, maka baiknya kita harus mengetahui terlebih dulu tentang PERILAKU.

Pengertian Tingkah laku berdasar sebagian ahli

  1. Menurut Geller (2001), tingkah laku merujuk pada perilaku atau aksi individu yang bisa dilihat oleh orang lain. Dengan kata lain, tingkah laku yaitu apa yang seorang katakan atau kerjakan yang disebut hasil dari fikirannya, perasaannya, atau diyakininya.
  2. Tingkah laku manusia menurut Dolores dan Johnson (2005 dalam Anggraini, 2011) yaitu beberapa kumpulan tingkah laku yang dipunyai oleh manusia dan di pengaruhi oleh kebiasaan, sikap, emosi, nilai, norma, kekuasaan, persuasi, dan atau genetika. Tingkah laku seorang dapat digolongkan kedalam tingkah laku lumrah, tingkah laku dapat di terima, tingkah laku aneh, dan tingkah laku menyimpang. Tingkah laku dikira sebagai suatu hal yg tidak diperlihatkan pada orang lain dan oleh karena itu adalah suatu aksi sosial manusia yang sangat mendasar
  3. Notoatmodjo (2007) menyampaikan kalau dari sisi biologis, tingkah laku yaitu suatu aktivitas atau kegiatan organisme (makhluk hidup) yang berkaitan. Dengan hal tersebut, tingkah laku manusia pada intinya yaitu aksi atau kegiatan dari manusia tersebut yang memiliki bentangan yang sangat luas, diantaranya jalan, bicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dsb.
  4. Skinner, merumuskan kalau tingkah laku adalah hasil jalinan pada perangsang (stimulus) dan respon dan tanggapan. Oleh karena tingkah laku ini terjadi melalui sistem ada stimulus pada organisme, dan lalu organisme itu merespon, maka teori Skinner ini dimaksud dengan teori “S-O-R” atau “Stimulus-Organisme-Respons”.

Aspek Penentu Tingkah laku Seorang
Walau tingkah laku yaitu bentuk tanggapan atau reaksi pada stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang), tetapi dalam memberi tanggapan sangat bergantung pada ciri-ciriistik atau beberapa aspek lain dari orang yang berkaitan. Hal semacam ini bermakna kalau walau stimulusnya sama untuk sebagian orang, tetapi tanggapan masing-masing orang tidak sama (Notoatmodjo, 2007). Aspek penentu tingkah laku terdiri atas 2 bagian :

  1. Aspek internal, yakni ciri-ciriistik orang yang berkaitan yang berbentuk bawaan dan berperan untuk memproses rangsangan dari luar, misalnya tingkat pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi, type kelamin, dsb.
  2. Aspek eksternal, mencakup sekitar lingkungan, baik fisik ataupun non-fisik, seperti iklim, manusia, sosial, budaya, ekonomi, politik, kebudayaan dsb. Aspek lingkungan ini sering adalah aspek yang menguasai memberi warna tingkah laku seorang.
    Jadi, pada intinya tingkah laku manusia di pengaruhi banyaknya aspek, baik aspek internal ataupun aspek eksternal. Tingkah laku tidak sama dengan aksi atau tindakan. Aksi atau tindakan adalah aksi mekanis pada suatu stimulus sedang tingkah laku yaitu suatu sistem mental yang aktif dan kreatif.

Teori Perubahan Perilaku
Geller (2001) menyebutkan kalau untuk mengubah bebrapa tingkah laku kritikal, maka konsentrasi yang diperlukan yaitu pada tingkah laku terbuka (overt behavior). Pergantian tingkah laku terjadi melalui sistem evaluasi. Sistem evaluasi itu terjadi dengan baik apabila sistem evaluasi itu membuahkan pergantian tingkah laku yang relatif permanen.
Evaluasi itu meliputi tiga komponen, yakni :

  1. Evaluasi melibatkan perubahan
  2. Pergantian harus relatif permanen
  3. Pergantian menyangkut perilaku

Ada banyak jenis basic pergantian tingkah laku, yakni :

Classical Conditioning

yaitu mengubah tingkah laku dengan memberi conditioned stimulus, pergantian itu membuahkan conditioned response. Aplikasinya dalam pergantian tingkah laku yaitu tingkah laku seorang dapat beralih apabila diberikan stimulus dengan cara terus-menerus. Apabila stimulus itu diberikan tidak terus-menerus, maka pergantian tingkah laku (conditioned response) akan tidak terjadi.

Dalam aplikasi program Behavior Based Safety (BBS), stimulus yang didapatkan terus-menerus yaitu melakukan observasi tingkah laku dengan cara terus-menerus dan memberi stimulus positif, selanjutnya akan membuahkan pergantian tingkah laku kerja aman (conditioned response of safe behavior).

Operant Conditioning 

yaitu mengubah tingkah laku dengan menghubungkan akibat yang didapatkannya. Teori ini dikenalkan oleh B. F. Skinner, seseorang pakar psikologi dari Harvard, yang menyebutkan kalau orang berperilaku sedemikian rupa untuk memperoleh suatu hal yang ia kehendaki atau untuk hindari suatu hal yg tidak ia kehendaki. Kecenderungan untuk mengulangi tingkah laku tertentu di pengaruhi oleh lemah-kuatnya reinforcement pada akibat yang diperoleh dari tingkah laku tertentu itu, oleh karenanya, disebutkan reinforcement menguatkan tingkah laku dan akan memberi kecenderungan tingkah laku tertentu itu diulangi lagi.

Aplikasinya dalam program BBS yaitu apabila dalam melakukan observasi tingkah laku kerja diperoleh pekerja sudah melakukan pekerjaannya dengan benar dan aman, maka pekerja itu harus di beri reinforcement agar pekerja itu tahu kalau yang ia kerjakan telah benar dan aman hingga tingkah laku kerja aman (safe behavior) akan diulangi selalu. Apabila tingkah laku kerja aman (safe behavior) ini selalu diulang, maka kecelakaan kerja dan lingkungan dapat dihindari.

Social Learning

yaitu mengubah tingkah laku melalui dampak jenis. Orang dapat belajar dari mencermati apa yang terjadi pada orang lain dan diajari suatu hal sedemikian rupa dari pengalaman langsung.

Aplikasinya dalam program BBS yaitu prinsip dan partisipasi manjemen bersama beberapa pimpinannya dengan cara aktif dan riil dalam implementasi program BBS untuk jadi jenis yang akan diikuti oleh semua deretan dibawahnya dengan cara aktif. Hal semacam ini dapat kurangi unsafe behavior jadi safe behavior dalam bekerja.

Developing Job Pride Through Behavior Reinforcement

menerangkan kalau tingkah laku di pengaruhi oleh efek yang didapatkannya. Efek yang negatif menghadap pada kecilnya peluang pengulangan tingkah laku. Sedang efek positif akan menghadap pada pengulangan tingkah laku jadi tambah besar. Dalam prakteknya apabila tingkah laku tertentu membuahkan pengalaman yang negatif, contoh memperoleh hukuman, denda, menyakitkan, perasaan tidak mengasyikkan dan yang lain yang negatif, maka tingkah laku tertentu itu condong tidak untuk diulangi lagi.

Apabila tingkah laku itu menghadirkan pengalaman yang positif seperti penghargaan, kesenangan, hadiah, kenikmatan, dan yang lain yang positif, maka tingkah laku itu condong untuk diulangi. Behavior reinforcement tidak sama dengan penghargaan pada pribadi biasanya. Behavior reinforcement dengan cara terang berhubungan dengan suatu hal yang khusus yang sudah dilakukan oleh orang itu (Bird and Gemain, 1990, dalam Geller, 2001).

Aplikasinya dalam program BBS yaitu penghargaaan atau perhatian positif yang lain perlu diberikan pada orang yang melakukan kerja aman (safe behavior). Penghargaan maupun perhatian positif itu diberikan pada suatu hal yang khusus yang sudah dilakukan oleh pekerja itu dengan aman. Pemberian hukuman akibatnya karena perilakunya akan tidak mengubah tingkah laku dengan cara permanen sebab tingkah laku itu beralih karena takut memperoleh hukuman.

Giving Feedback

Sistem pergantian tingkah laku memerlukan feedback sebagai mekanisme untuk tingkatkan kepekaan pada error generating work habits, terlebih kesalahan yang mungkin menyebabkan kecelakaan. Ada lima ciri-ciriistik feedback, yakni :

  1. Speed, lebih cepat feedback diberikan setelah terjadinya kesalahan, lebih cepat juga aksi perbaikan yang akan dilakukan. Diluar itu, pekerja dapat juga belajar segera dari kesalahan itu.
  2. Specificity, lebih tajam feedback difokuskan pada kesalahan dengan cara khusus, maka semakin lebih efisien akhirnya.
  3. Accuracy, feedback harus cermat, kesalahan pada feedback menyebabkan aksi yang salah.
  4. Kontent, isi dari info yang akan di sampaikan harus sesuai sama tingkah laku yang dikehendaki. Tingkah laku yang komplek memerlukan elaborasi info lebih detil.
  5. Amplitude, feedback harus cukup menyebabkan perhatian pada pekerja, akan tetapi feedback yang berlebihan dapat mengacaukan performance yang dikehendaki.

Setelah tahu dan memahami tentang tingkah laku, setelah itu akan dibicarakan lebih dalam tentang Behavior Based Safety.

Behavior Based Safety (BBS) adalah aplikasi systematis dari penelitian psikologi mengenai tingkah laku manusia pada permasalahan keselamatan (safety) di tempat kerja yang memasukkan sistem umpan balik dengan cara segera dan tidak segera. BBS lebih mengutamakan segi tingkah laku manusia pada terjadinya kecelakaan ditempat kerja. Menurut Geller (2001), BBS yaitu sistem pendekatan untuk tingkatkan keselamatan kesehatan kerja dan lingkungan dengan jalan membantu sekumpulan pekerja untuk :

  1. Mengidentifikasi tingkah laku yang terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
  2. Menyatukan data grup pekerja.
  3. Memberi feedback dua arah tentang tingkah laku keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
  4. Kurangi atau menghapus kendala system untuk perubahan selanjutnya.

Teori Heinrich (1980, dalam Geller, 2001) mengenai keselamatan kerja menyebutkan kalau tingkah laku tidak aman (unsafe behavior) adalah penyebabnya basic pada beberapa besar peristiwa nyaris celaka dan kecelakaan ditempat kerja. Oleh karenanya, dilakukan observasi mendalam trerhadap kelompok pekerja tentang tingkah laku kerja tidak aman. Umpan balik tentang observasi pada tingkah laku sudah dapat dibuktikan berhasil dalam kurangi tingkah laku tidak aman beberapa pekerja. Umpan balik yang didapatkan dapat berbentuk lisan, grafik, tabel dan bagan, atau melalui aksi perbaikan. Penggunaan alat pelindung seperti pakaian keselamatan, sepatu safety, helm keselamatan, dan lainnya. Selanjutnya, Cooper (2009) mengidentifikasi ada tujuh persyaratan yang sangat penting untuk proses program Behavior Based Safety :

1. Melibatkan Partisipasi Karyawan yang Bersangkutan
BBS mengaplikasikan system bottom-up, hingga individu yang memiliki pengalaman di bagiannya ikut serta segera dalam mengidentifikasi tingkah laku kerja tidak aman (unsafe behavior). Dengan keterlibatan pekerja secara detail dan ada prinsip, kepedulian semua pekerja pada program keselamatan maka sistem perbaikan akan jalan dengan baik.

2. Memusatkan Perhatian pada unsafe behavior yang spesifik
Untuk mengidentifikasi aspek di lingkungan kerja yang menyebabkan terjadinya tingkah laku tidak selamat beberapa praktisi memakai tehnik behavioral analisa terapan dan berikan hadiah (reward) tertentu pada individu yang mengidentifikasi tingkah laku tidak selamat.

3. Didasarkan pada Data Hasil Observasi
Observer memantau tingkah laku selamat pada grup mereka kurun waktu tertentu. Semakin banyak observasi semakin reliabel data itu, dan safe behavior akan bertambah.

4. Sistem Pembuatan Ketentuan Berdasar pada Data
Hasil observasi atas tingkah laku kerja dirangkum dalam data persentase jumlah safe behavior. Berdasar pada data itu dapat diliat letak kendala yang dihadapi. Data ini jadi umpan balik yang dapat jadi reinforcement positif untuk karyawan yang sudah berperilaku kerja aman, diluar itu dapat pula jadi basic untuk mengoreksi unsafe behavior yang susah di hilangkan.

5. Melibatkan Intervensi Dengan cara Systematis dan Observasional
Kekhasan system Behavior Based Safety yaitu ada jadwal intervensi yang terencana. Diawali dengan briefing pada semua departemen atau lingkungan kerja yang dilibatkan, karyawan disuruh untuk jadi relawan yang bertugas sebagai observer yang tergabung dalam sebuah project team. Observer ditraining agar dapat menggerakkan pekerjaan mereka. lalu mengidentifikasi unsafe behavior yang ditempatkan dalam check daftar. Daftar ini diperlihatkan pada beberapa pekerja untuk memperoleh kesepakatan. Setelah di setujui, observer melakukan observasi pada periode waktu tertentu (+ 4 minggu), untuk memastikan baseline. Kemudian barulah program intervensi dilakukan dengan memastikan goal setting yang dilakukan oleh karyawan sendiri. Observer selalu melakukan observasi. Data hasil observasi lalu dianalisis untuk memperoleh feedback untuk beberapa karyawan. Team project juga bertugas memantau data dengan cara berkala, hingga perbaikan dan koreksi pada program dapat selalu dilakukan.

6. Mengutamakan pada Umpan Balik pada Tingkah laku Kerja
Dalam program Behavior Based Safety, umpan balik dapat berupa umpan balik verbal yang segera diberikan pada karyawan pada saat observasi, umpan balik berbentuk data (grafik) yang diletakkan dalam beberapa tempat yang strategis dalam lingkungan kerja, dan umpan balik berbentuk briefing dalam periode tertentu di mana data hasil observasi dianalis untuk memperoleh umpan balik yang mendetail tantang tingkah laku yang khusus.

7. Memerlukan Support dari Manager
Prinsip manajemen pada sistem behavior based safety biasanya diperlihatkan dengan berikan keleluasaan pada observer dalam menggerakkan tugasnya, memberi penghargaan yang melakukan tingkah laku selamat, sediakan fasilitas dan pertolongan untuk aksi yang perlu selekasnya dilakukan, menolong membuat dan menggerakkan umpan balik, dan tingkatkan gagasan untuk melakukan tindakan selamat dalam setiap peluang. Support dari manajemen sangat penting karena kegagalan dalam aplikasi BBS biasanya dikarenakan oleh kurangnya support dan prinsip dari manajemen.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s