Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja

Related image

Kecelakaan tidak terjadi begitu saja, kecelakaan terjadi karena tindakan yang salah atau kondisi yg tidak aman. Kelalaian sebagai sebab kecelakaan ialah nilai tersendiri dari tehnik keselamatan. Ada pepatah yang mengungkap aksi yang lupa seperti kegagalan dalam lihat atau jalan meraih suatu yang jauh di atas sebuah tangga. Hal itu tunjukkan cara yang lebih baik selamat untuk menyingkirkan keadaan kelalaian dan melakukan perbaikan kesadaran tentang keselamatan setiap karyawan pabrik.

Terjadi dengan cara kebetulan.
Dikira sebagai kecelakaan dalam arti asli (genuine accident) sifatnya tidak bisa diramalkan dan berada diluar kendali manejemen perusahaan. Misalnya, seseorang karyawan tepat berada di depan jendela kaca ketika mendadak seorang melempar jendela kaca hingga mengenainya.

Keadaan kerja yg tidak aman.
Keadaan kerja yg tidak aman adalah salah satu penyebabnya utama terjadinya kecelakaan. Keadaan ini mencakup beberapa aspek seperti berikut :
a. Perlengkapan yg tidak terproteksi dengan cara benar.
b. Perlengkapan yang rusak.
c. Prosedur yang beresiko dalam, pada, atau di sekitar mesin atau perlengkapan gudang yg tidak aman (sumpek dan terlalu penuh).
d. Cahaya tidak mencukupi, suram, dan kurang penerangan.
e. Ventilasi yg tidak prima, perubahan hawa kurang, atau sumber hawa tidak murni.
Pemulihan pada beberapa aspek ini yaitu dengan meminimalisir keadaan yg tidak aman, misalnya lewat cara bikin daftar keadaan fisik dan mekanik yang bisa mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Pembuatan cheklist ini akan menolong dalam temukan permasalahan sebagai penyebabnya kecelakaan.

Aspek – aspek Kecelakaan
Beberapa sumber bahaya yang punya potensi menyebabkan kecelakaan kerja dapat digolongkan seperti berikut :

1. Bahan Kimia.

Mencakup bahan mudah terbakar, berbentuk toksin, korosif, tidak stabil, sangat reaktif, dan gas yang beresiko. Pemakaian senyawa yang berbentuk karsinogenik dalam industri ataupun laboratorium adalah masalah yang penting, baik karena sifatnya yang beresiko ataupun cara yang ditempuh dalam perlakuannya. Beberapa langkah yang perlu ditempuh dalam perlakuan bahan kimia beresiko mencakup manajemen, cara pengatasan, penyimpanan dan pelabelan, keselamatan di laboratorium, ingindalian dan pengontrolan tempat kerja, dekontaminasi, disposal, prosedur kondisi darurat, kesehatan pribadi beberapa pekerja, dan kursus. Bahan kimia dapat mengakibatkan kecelakaan melalui pernapasan (seperti gas beracun), serapan pada kulit (cairan), atau bahkan juga tertelan melalui mulut untuk padatan dan cairan.

Bahan kimia beresiko dapat dikelompokkan kedalam beberapa kelompok yakni, bahan kimia yang eksplosif (oksidator, logam aktif, hidrida, alkil logam, senyawa tidak stabil dengan cara termodinamika, gas yang mudah terbakar, dan uap yang mudah terbakar). Bahan kimia yang korosif (asam anorganik kuat, asam anorganik lemah, asam organik kuat, asam organik lemah, alkil kuat, pengoksidasi, pelarut organik). Bahan kimia yang mengakibatkan kerusakan paru-paru (asbes), bahan kimia beracun, dan bahan kimia karsinogenik (menyebabkan perkembangan sel kanker), dan teratogenik.

2. Beberapa bahan Biologis.

Bakteri, jamur, virus, dan parasit adalah beberapa bahan biologis yang sering dipakai dalam industri ataupun dalam taraf laboratorium. Pada kelompok ini tidak cuma organisme saja, namun juga semua bahan biokimia, termasuk di dalamnya gula simpel, asam amino, dan substrat yang dipakai dalam sistem industri. Perlakuan dalam penyimpanan sistem ataupun pembuangan bahan biologis ini perlu memperoleh kecermatan dan kehati-hatian, mengingat masalah kerancuan akibat organisme dapat mengakibatkan rusaknya beberapa sel badan yang serius pada karyawan atau tenaga kerja.

3. Aliran Listrik

Pemakaian perlengkapan dengan daya yang besar akan memberi sebagian peluang untuk terjadinya kecelakaan kerja. Beberapa aspek yang perlu di perhatikan diantaranya :
a. Penggunaan safety switches yang bisa memutus arus listrik bila pemakaian melebihi limit/batas yang diputuskan oleh alat.
b. Improvisasi pada perlengkapan listrik harus memerhatikan standard keamanan dari perlengkapan.
c. Pemakaian perlengkapan yang sesuai sama keadaan kerja sangat diperlukan untuk hindari kecelakaan kerja.
d. Waspada dengan air. Jangan sampai meninggalkan perkerjaan yang sangat mungkin perlengkapan listrik jatuh atau bersinggungan dengan air. Begitu halnya semburan air yang segera berhubungan dengan perlengkapan listrik.
e. Waspada dalam bangun atau mereparasi perlengkapan listrik agar tidak membahayakan penguna yang lain lewat cara memberi info mengenai spesifikasi perlengkapan yang sudah direparasi.
f. Pertimbangan kalau bahan kimia dapat mengakibatkan kerusakan perlengkapan listrik ataupun isolator sebagai pengaman arus listrik. Karakter korosif berbahan kimia dapat mengakibatkan rusaknya pada komponen listrik.
g. Perhatikan instalasi listrik bila bekerja pada atmosfer yang mudah meledak. Misalnya pada lemari asam yang dipakai untuk ingindalian gas yang mudah terbakar.
h. Pengoperasian suhu dari perlengkapan listrik akan memberi dampak pada bahan isolator listrik. Temperatur sangat rendah mengakibatkan isolator akan mudah patah dan rusak. Isolator yang terbuat berbahan polivinil clorida (PVC) tidak baik dipakai pada suhu dibawah 0 oC. Karet silikon dapat dipakai pada suhu –50 oC. Batas maksimum pengoperasian alat penting juga untuk di perhatikan. Bahan isolator dari polivinil clorida dapat dipakai sampai pada suhu 75 oC, sedang karet silikon dapat dipakai sampai pada suhu 150 oC.

4. Ionisasi Radiasi

Ionisasi radiasi dapat di keluarkan dari perlengkapan sejenis X-ray difraksi atau radiasi internal yang dipakai oleh material radioaktif yang bisa masuk ke pada tubuh manusia melalui pernapasan, atau serapan melalui kulit. Non-ionisasi radiasi seperti ultraviolet, infra merah, frekwensi radio, laser, dan radiasi elektromagnetik dan medan magnet harus juga di perhatikan dan diperhitungkan sebagai sumber kecelakaan kerja.

5. Mekanik.

Meskipun industri dan laboratorium modern lebih didominasi oleh perlengkapan yang termonitor oleh computer, termasuk didalamnya robot pengangkat benda berat, akan tetapi kerja mekanik masihlah harus dilakukan. Pekerjaan mekanik seperti transportasi bahan baku, pergantian perlengkapan habis gunakan, masihlah harus dilakukan dengan cara manual, hingga kekeliruan prosedur kerja dapat mengakibatkan kecelakaan kerja. Perlengkapan keselamatan kerja seperti helmet, sarung tangan, sepatu safety, dan sebagainya perlu memperoleh perhatian khusus dalam lingkup pekerjaan ini.

6. Api.

Nyaris semua laboratorium atau industri memakai bahan kimia dalam beragam macam pemakaian termasuk sistem pembuatan, pemformulaan atau analisa. Cairan mudah terbakar yang sering dipakai dalam laboratorium atau industri yaitu hidrokarbon. Bahan mudah terbakar yang lain misalnya pelarut organik seperti aseton, benzen, butanol, etanol, dietil eter, karbon disulfida, toluena, heksana, dan sebagainya. Beberapa pekerja harus berupaya untuk akrab dan tahu dengan info yang terdapat dalam Material Safety Data Sheets (MSDS). Dokumen MSDS memberi keterangan mengenai tingkat bahaya dari setiap bahan kimia, termasuk di dalamnya mengenai jumlah bahan yang diperbolehkan untuk disimpan dengan cara aman.

Sumber api yang lain dapat datang dari senyawa yang bisa meledak atau tidak stabil. Banyak senyawa kimia yang mudah meledak sendiri atau mudah meledak bila bereaksi dengan senyawa lain. Senyawa yg tidak stabil harus di beri label pada penyimpanannya. Gas bertekanan juga adalah sumber kecelakaan kerja akibat terbentuknya atmosfer dari gas yang mudah terbakar.

7. Nada (kebisingan).

Sumber kecelakaan kerja yang satu ini biasanya terjadi pada nyaris semua industri, baik industri kecil, menengah, ataupun industri besar. Generator pembangkit listrik, instalasi pendingin, atau mesin pembuat vakum, adalah demikian contoh dari perlengkapan yang diperlukan dalam industri. Perlengkapan-peralatan itu punya potensi keluarkan nada yang bisa menyebabkan kecelakaan kerja dan masalah kesehatan kerja. Selain angka kebisingan yang diakibatkan oleh mesin, beberapa pekerja harus memerhatikan berapakah lama mereka bekerja dalam lingkungan itu. Pelindung telinga dari kebisingan harus juga di perhatikan untuk menanggung keselamatan kerja.

Begitu juga, kursus yang didapatkan pada pekerja harus dianalisa, untuk seorang yang berada di kelas kursus kecenderungan kecelakaan mungkin hanya sedikit yang di ketahuinya. Satu lagi pertanyaan yang tidak terjawab adalah adakah jalinan yang penting pada kecenderungan pada kecelakaan yang kecil atau salah satu kecelakaan yang besar. Pendekatan yang sering dilakukan untuk seseorang manager untuk salah satu aspek kecelakaan pada pekerja yaitu dengan tidak membayar gajinya. Bagaimanapun bila banyak pabrik yang melakukan hal di atas akan mengakibatkan menyusutnya rata-rata pendapatan, dan tidak membayar gaji pekerja akan bikin pekerja malas melakukan pekerjaannya dan selalu membahayakan diri mereka maupun pekerja yang lain. Ada peluang kalau peristiwa dengan cara acak dari sebuah kecelakaan dapat bikin beberapa aspek kecelakaan sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s