Pentingnya Mind Set HES (Safety) dan Culture HES (Safety) Meaning

Related image

Budaya keselamatan (safety culture) ialah kunci untuk mendukung tercapainya peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam organisasi. Apakah itu budaya keselamatan? Budaya keselamatan yaitu karakter dan sikap dalam organisasi, individu yang mengutamakan pentingnya keselamatan. Oleh karenanya, budaya keselamatan mempersyaratkan agar semua keharusan yang terkait dengan keselamatan harus dikerjakan dengan cara benar, cermat, dan penuh rasa tanggung jawab. Tetapi budaya di setiap organisasi itu tidak sama dan beragam ciri-ciriistiknya seperti sebuah keluarga yang memiliki ketidaksamaan dari keluarga yang lain. Pertanyaannya apakah telah banyak organisasi dan individu yang melibatkan keselamatan dalam budayanya?

Meskipun HES/K3 sudah “dianggap penting” dalam segi aktivitas operasi tetapi di dalam pengerjaannya masihlah saja didapati kendala dan beberapa masalah. Salah satu kendala itu tidak lain yaitu kendala sosial budaya. Artinya budaya keselamatan di negara kita masihlah pantas dipertanyakan.

Bagaimana caranya untuk tingkatkan dan “menyuburkan” budaya keselamatan itu?

Jawabannya yaitu prinsip dan kepemimpinan (leadership). Prinsip untuk keselamatan akan nampak bila setiap organisasi atau individu dengan terang mengerti manfaat positif yang didapat dari keselamatan itu. Mengerti manfaat akan membuat hasrat yang kuat untuk tingkatkan budaya keselamatan dan setelah itu organisasi atau individu akan menginvestasikan waktu dan uang dengan cara serius ke manajemen dan program keselamatan yang efisien (berikut prinsip) yang menjdaikan ini sebagai keperluan atau lebih dalam lagi jadi Behaviour dalam setiap insan.

Kepemimpinan/leadership juga erat hubungan dengan budaya. Kepemimpinan adalah hal yang sangat penting dalam setiap program di organisasi atau kesatuan orang-orang termasuk program-program keselamatan. Sehari-hari, pemimpin seperti mandor, supervisor, manajer, bupati, gubernur, pemimpin keluarga dan lain-lain memiliki banyak peluang untuk berkomunikasi dan melakukan tindakan lewat cara yang tunjukkan kepemimpinannya dalam soal keselamatan (safety leadership). Sayangnya, kesempatan itu sering tidak terjawab karena mereka tidak melihat ini sebagai kesempatan. Mereka sering tidak tahu kalau ekspresi simpel dalam kepemimpinan untuk safety dapat membuahkan manfaat besar. Ketakmampuan untuk lihat kesempatan kepemimpinan ini sama juga dengan membatasi potensi perusahaan atau organisasi untuk sukses.

Setiap individu pada semua tingkat organisasi atau kesatuan masyarakat yaitu orang-orang yang berusaha untuk melakukan terbaik yang mereka bisa dengan apa yang mereka miliki. Masalahnya yaitu, mereka tidak selamanya memiliki sumber daya fisik dan support psikososial untuk meraih hasil yang diinginkan. Mungkin karena pemimpin tidak sediakan sumber daya itu. Kenapa? Selanjutnya, budaya lah yg tidak mensupport kepemimpinan dan manajemen termasuk dalam kepemimpinan dan manajemen keselamatan yang efisien. Tetapi bagaimanapun pemimpin lah yang semestinya dapat membuat atau mengarahkan budaya pada beberapa orang yang di pimpinnya itu termasuk dalam budaya keselamatan. Ya, budaya dan kepemimpinan yaitu suatu hal yg tidak dapat dipisahkan. Karenanya efektifitas dari program keselamatan sangat bergantung dari budaya dan kepemimpinan.

“Safety Leadership” dalam bangun Budaya HES /K3

Pengalaman beberapa ahli yang telah banyak menggerakkan best practices aplikasi budaya keselamatan kerja, dengan tegas menyampaikan kalau “Pengembangan budaya keselamatan diawali dari manajemen puncak dan tim manajemen dalam organisasi”.
Safety leadership sangat bertindak sebagai kunci kesuksesan dalam bangun budaya keselamatan yang kuat pada industry memiliki resiko tinggi. Berdasar pada hasil kajian, atribut-atribut safety leadership yaitu : Pimpinan sebagai Role Jenis yang sangat memercayakan aspek keteladanan, norma kerja yang kuat, tanggung jawab, kepribadian, keterbukaan, keyakinan, ketekunan, berikan motivasi dan komunikasi yang efisien untuk wujudkan keselamatan. Pemimpin pembelajar untuk tingkatkan keselamatan dengan cara berkepanjangan, berdasar pada Shell Global Solution, style kepemimpinan keselamatan disusun dalam 4 kelompok, yakni Telling, Teaching, Participating, Delegating. Pemimpin yang sharing pengetahuan, melakukan transfer knowledge melalui coaching, mentoring, dan conseling untuk sharing pengetahuan keselamatan pada generasi penerus kepemimpinan keselamatan. Perkembangan dan aplikasi safety leadership di setiap industri sangat bergantung dari prinsip pihak top management dalam menumbuhkembangkan budaya keselamatan di organisasinya semasing.

Budaya keselamatan dalam budaya dan nilai lokal

Beberapa budaya lokal di negara kita sesungguhnya telah memiliki nilai-nilai keselamatan seperti budaya Jawa yang memiliki pepatah “gremet-gremet waton selamet” yang artinya merayap seandainya selamat dan ”alon-alon waton kelakon” yang artinya pelan-pelan asal selamat (terwujud). Ini bukanlah bermakna mengajarkan selalu untuk lambat, namun tujuannya yaitu utamakan keselamatan (safety first), setelah keselamatan terjamin barulah kwalitas dapat diraih. Jadi maksud pepatah Jawa itu yaitu kerjakan suatu hal dengan basic yang pasti, lewat cara yang selamat, efisien dan efektif dan maksud terwujud dengan baik. Prinsip bekerja alon-alon waton kelakon tidak menyaratkan untuk kita bersantai-santai atau berleha-leha namun lebih menyaratkan agar kita tidak tergesa-gesa dan selalu siaga, silakan saja orang lain menyalip bila memang ingin duluan, yang penting kita nikmati dahulu sistem optimasi yang kita kerjakan, dan kita tidaklah terlalu bernafsu menguber yang telah mendahului, karena perlahan-lahan namun mantap itu juga sama pentingnya dibanding segera tancap gas tanpa ada pernah ngerem. Pekerja juga diharapkan untuk selalu sadar saat bekerja untuk menggunakan alat pelindung diri untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja, seperti menggunakan pakaian dan sepatu safety.

Di budaya Jawa ada juga beberapa pepatah lain yang memiliki arti keselamatan seperti ; “aja nggege mangsa” yang artinya janganlah mempercepat musim atau waktu, arti sejatinya yaitu janganlah memaksakan diri dalam peroleh hasil sebelumnya waktunya, karena apa yang didapat tentu tidak memuaskan, jangan sampai menguber atau mempercepat produksi namun meremehkan keselamatan, nyawa Kamu lebih bernilai dari waktu yang Kamu kejar ; “cagak amben cemethi tali” yang berarti dalam kerjakan pekerjaan-pekerjaan susah, beresiko, dan berat diperlukan orang yang betul-betul mumpuni, di sini tersirat kalau bahaya dalam pekerjaan harus diantisipasi dan diperlukan training untuk pekerjanya agar bena-benar mumpuni ; “jer basuki mawa beya” yang maknanya untuk memperoleh keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup selalu memperlukan biaya, usaha keras, dan pengorbanan, begitu halnya K3, untuk meraihnya perlu investasi namun yakinlah kalau investasi itu akan untungkan.

Di budaya Melayu terdapat pepatah “kalau pintar melalui buih, selamat tubuh sampai ke seberang” yang artinya orang yang pintar membawa diri, tentunya selamat hidupnya. Meskipun berarti umum namun memiliki kandungan arti keselamatan juga. Untuk meraih suatu maksud, contoh tujuan produksi dengan selamat maka harus dapat melalui pekerjaan di sistem produksi dengan memerhatikan segi keselamatan. Ada pula pepetah Melayu “mencegah lebih baik dari pada mengubati” atau “menolak kerosakan lebih utama dari pada menarik kemaslahatan. ” Hal semacam ini sesuai sama program K3 baiknya lebih ke preventif dan promotif dari pada kuratif. Ada pula peribahasa Melayu “baik jadi ayam betina sepaya selamat”, maknanya janganlah menonjolkan sok berani sebab hanya menghadirkan kesulitan belaka dengan kata lain jauhilah tingkah laku yang berisiko dan menantang bahaya. Diluar itu ada pepatah Melayu “jangan tergopoh gapah dalam melakukan suatu hal perkara” yang artinya serupa dengan “alon-alon waton kelakon. ”

Di budaya Tionghoa terdapat filosofi “carilah pekerjaan yang anda tidak bekerja” atau “carilah pekerjaan yang benar-benar anda sukai, maka seumur hidup anda tak perlu lagi menyebutnya bekerja” (Confucius). Meskipun tidak dengan cara explisit menyinggung keselamatan kerja fisik tetapi dengan cara implisit filosofi ini memiliki pesan yang seirama dengan ergonomi yang disebut prinsip dari K3 yaitu “fitting the job to the man” yaitu cocokkan pekerjaan dengan individu karena setiap individu memiliki ciri-ciriistik yang tidak sama baik itu ciri-ciriistik non fisik ataupun fisik (antropometri), hingga pekerjaan dapat dilakukan dengan cara selamat dan sehat bukan sekedar fisik tetapi juga mental dan produktif hingga mutunya tinggi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s